Pengganti Sri Mulyani dari Profesional

Media Monitoring Service
Cubic Centra Indonesia
http://www.cc-indonesia.com

Jakarta – Calon menteri keuangan (menkeu) baru pengganti Sri Mulyani dipastikan dari kalangan profesional. Hal itu ditegaskan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yushoyono (SBY), Julian Aldrin Pasha.

"Yang pasti mungkin dari kelompok professional, dalam arti yang betul-betul mengerti di sektor keuangan yang nanti akan dipilih untuk menduduki posisi tersebut," kata Julian usai mendampingi SBY membuka Kongres Umat Islam di Pondok Gede, Jakarta, Jumat (7/5).

Pilihan dari kalangan profesional dionilai SBY sangat penting dan strategis bagi pembangunan ekonomi nasional. "Jadi akan lebih ideal bila nanti yang akan mengisi posisi tersebut adalah orang yang paling paham bidang atau sektor keuangan dan perekonomian pada umumnya," katanya.

Meski demikian, Julian mengatakan hingga kini belum ada nama pasti yang sudah dipilih SBY untuk menggantikan Sri Mulyani. Julian juga belum mengetahui apakah proses penetapan menkeu baru akan seperti penentuan menteri kabinet sebelumnya dengan melakukan uji kelayakan dan kepatutan serta menandatangani kontrak kerja.

"Saya belum tahu persis siapa yang nanti menjadi menkeu yang baru, dan apakah proses dan mekanisme sama seperti halnya saat seleksi menteri kabinet lalu," katanya.

Julian sendiri menolak sinyalemen ini diartikan sudha tertutup calon menkeu dari partai politik. "Saya tidak katakan tidak mungkin dari parpol, tapi kemungkinan terbesar bila pertimbangan kontinuitas kebijakan ekonomi makro dan kebijakan fiskal, maka hampir pasti dari kelompok profesional yang akan menempati posisi tersebut," katanya.

Bila dari kalangan professional, nama-nama yang sempat disebut di Surabaya Post edisi Kamis (6/5) bisa jadi semakin kuat. Mereka di antaranya Anggito Abimanyu yang saat ini Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depeku, Darmin Nasution yang saat ini Pjs Gubernur Bank Indonesia. Nama lain termasuk Agus Martowardojo, CEO Bank Mandiri dan Fuad Rahmany, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal.

Meski demikian, muncul juga usulan dari kelompok yang jauh dari lingkaran pemerintah.

Keterwakilan para ekonom yang selama ini berada di luar “lingkaran” kepresidenan dianggap penting agar tudingan neolib terhadap pemerintaha dapat direduksi. “Ini saatnya SBY menunjukkan bahwa memang dia bukan pendukung neolib seperti yang selama ini banyak ditudingkan padanya. Garis ideologi kita jelas, yaitu Pancasila. Jadi buktikan kalau memang pemerintahan kita tidak sedang mengkhianati garis ideologi tersebut,” ujar pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Edi Swasono, Jumat (7/5). Pembuktian tersebut, menurut Sri Edi, dapat dirupakan dijalankannya sistem perekonomian Pancasila dalam setiap kebijakan perekonomian negara.

Selama ini, Sri Edi menjelaskan, nafas penerapan ideologi neolib memang sangat kental dalam setiap kebijakan yang diambil Sri Mulyani. Kebijakan-kebijakan tersebut, menurutnya sangat jauh dibanding kebutuhan masyarakat terkait ketersediaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan.

“Kalau Presiden bilang ingin mengurangi angka kemiskinan dan pro job (mendukung industri padat karya), ya sekarang waktunya untuk dibuktikan. Jangan hanya omongan saja seperti selama ini,” ujarnya.

Keberpihakan tersebut, lanjutnya, bisa dirupakan dalam bentuk penunjukan figur pengganti Sri Mulyani kepada ekonom-ekonom yang berpegang teguh pada konstitusi negara. Selama ini, dijelaskannya, pasal 33 UUD 1945 sebagai landasan di bidang perekonomian telah banyak dilanggar dan perlu untuk segera dibenahi. “Baru-baru ini ada sekumpulan ekonom yang mendeklarasikan adanya ekonomi konstitusi. Ini harus diapresiasi Presiden. Harus diakui konstitusi selama ini sudah dilanggar,” tukasnya.

Terkait kriteria dan figur yang diajukan, Sri Edi menyebut nama Rizal Ramli dan Kwik Kian Gie sebagai alternatif di urutan terdepan. “Saya tidak tahu alasan utama dua orang cerdas ini terbuang dari pusaran pemerintahan, karena secara kualitas, saya pikir tidak ada yang meragukan kapasitas dua orang ini,” urainya.

Munculnya dua nama ini, menurutnya, diperlukan karena selama ini dua figur tersebut dikenal vokal dalam hal ekonomi konstitusi. Menggandeng dua figur tersebut justru dianggap Sri Edi sebagai langkah strategis SBY dalam menggalang kekuatan akar rumput perekonomian yang selama ini selalu menjadi oposisinya. “Kesalahan utama neolib yang sekarang menjadi nadi perekonomian kita adalah dia tidak akan pernah bisa pro job dan mengentaskan kemiskinan. Itu pasti. Dan dua figur ini saya anggap punya jalan keluar atas kebutuhan tersebut,” tukasnya.

Pendapat senada diungkapkan oleh pengamat ekonomi dari Institute for Development Economy and Finance (Indef), Imam Sugema. Meski tidak berkenan menyebut nama figur, Imam sepakat bahwa perekonomian Indonesia harus dikembalikan pada perekonomian Pancasila sebagai landasan ideologi negara. “Orang ribut saling tuding neolib atau anti-neolib. Karena ini di Indonesia, maka konteks yang seharusnya bukan neolib atau anti-neolib, tapi Pancasila. Jadi kalau mencari figur pengganti Menteri Keuangan, ya yang sesuai dengan Pancasila,” ujarnya. Mengenai mundurnya Sri Mulyani, Imam mengaku bersyukur karena sosok Sri Mulyani selama ini dianggapnya justru menjadi beban bagi jalan kinerja pemerintahan saat ini. Dengan serangkaian kasus dan perseturuannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), keberadaan Sri Mulyani justru dianggapnya menjadi penghambat yang membuat kinerja pemerintahan jadi tidak efektif. “Sosok Sri Mulyani itu karakternya arogan dan kurang rendah hati. Ini yang membuat komunikasi pemerintahan dengan DPR jadi tidak efektif. Sepeninggal Sri Mulyani, saya harap sosok penggantinya dapat mencairkan hubunga yang sekarang merenggang tersebut” jelasnya. Dengan karakter arogan tersebut, Imam mengklaim figur Sri Mulayani selama ini kurang disuka oleh kalangan wakil rakyat dan pengusaha karena seringkali membuat keputusan tanpa berkonsultasi terhadap pihak-pihak yang bersangkutan.

Hal lain yang menjadi koreksi dari sosok Sri Mulyani guna mencari figur ideal penggantinya menurut Imam, adalah kurang memahaminya sosok Sri Mulyani terhadap kondisi riil masyarakat Indonesia. “Dia kurang paham apa yang dimaui oleh rakyat. Dia selalu sibuk dengan pendekatan makro ekonomi. Tapi silakan menilai sendiri, apa ada perubahan yang dirasakan oleh rakyat kecil. Tidak ada,” tukasnya. Keberpihakan terhadap ekonomi mikro yang bersentuhan langsung dengan masyarakat kelas menengah ke bawah, bagi Imam adalah wajib untuk diwujudkan dalam setiap kebijakan-kebiajakan perekonomian negara. Imam yakin ada ratusan ekonom-ekonom handal di luar pusaran pemerintahan yang mampu menjalankan poin-poin yang belum tergarap oleh Sri Mulyani sebelumnya. “Yang penting jangan suka membuat statement yang membesarkan hati sendiri lah. Orang boleh puas dengan pertumbuhan ekonomi makro yang diblow-up habis-habisan. Coba lihat ke kondisi riil masyarakat, ada nggak pengaruhnya. Ini yang menjadi Pe-eR Presiden ke depan kalau memang mau memperbaiki diri,” tegasnya. tsa

sumber

0 Response to "Pengganti Sri Mulyani dari Profesional"

Post a Comment

Powered by Blogger